TFR

View Original

Rasa lelah yang melanda dunia NFT

Read in English

Hampir setahun berlalu sejak seni kripto NFT terdengar di telinga awam. Ada yang mengenal NFT karena telah bermain di dunia kripto sebelumnya, ada juga yang mulai mendengarnya dari sejumlah liputan kasus plagiarisme karya seni berbentuk fisik yang ditransformasi menjadi NFT. Ada pula yang tertarik sejak maraknya promosi NFT sebagai salah satu sumber fast money yang digencarkan sejumlah influencer.

Sebelum ada NFT, galeri atau pihak ketiga lainnya memainkan peran penting dalam transaksi karya seni. Penikmat seni harus mengunjungi galeri atau museum untuk dapat mengakses sebuah karya. Peran kolektor juga dianggap sangat eksklusif, hanya mungkin dilakukan oleh segelintir kelas masyarakat. 

Komunitas NFT yang bekerja dalam dunia digital telah menjaring seniman dan kolektor dari seluruh penjuru dunia. Aset kripto unik ini berhasil menjawab salah satu mimpi besar kebanyakan pelaku seni, yaitu membangun sistem transaksi karya seni yang transparan dan tidak terpusat.

Tiap seniman dan kolektor dapat berhubungan secara langsung satu sama lain dan melakukan transaksi yang tercatat dalam blockchain. Industri NFT membuka pintu bagi semua orang untuk membuat karya dan berjejaring, memperluas aksesibilitas dalam dunia seni. 

Dalam dunia NFT, seorang seniman tak hanya membuat karya dan membiarkan platform NFT bekerja. Setelah sebuah karya diunggah lalu promosi dilakukan, kebanyakan melalui media sosial. Twitter menjadi platform utama tempat komunitas NFT berjejaring, bersamaan dengan Discord. 

Kecanggihan karya NFT kian hari semakin tinggi. Sebut saja karya-karya yang bisa ditemui di https://www.fxhash.xyz/, seluruhnya berbasis coding dan bersifat generatif. Tiap karya yang dikoleksi bersifat unik satu sama lain.

Pesatnya perkembangan tren dan inovasi ini nampaknya juga menciptakan dampak negatif. Individu yang terlibat dalam industri NFT kerap merasa cemas dan khawatir.

“Pastinya, yang wajib dimiliki kalau mau mulai main NFT adalah token. Tapi selain itu, hal yang harus dipastikan adalah kesiapan dan kekuatan mental. Menjadi seniman NFT bukan hanya perihal membuat karya digital dan mengunggahnya, tapi kita juga meng-invest diri kita ke dalamnya,” ujar Weldy Rhadiska, pendiri The Monday Art Club. 

Rhadiska melihat, kemudahan akses komunikasi komunitas NFT tak jarang memunculkan rasa ragu dan tidak percaya diri serta kebiasaan membanding-bandingkan kesuksesan. Tekanan yang ia rasakan itu juga lahir dari keharusan untuk secara konstan mengatur social-media presence dalam dunia digital.

Salah satu mantra dalam NFT Twitter terminologi, WAGMI (We All Gonna Make It), menjadi sugesti yang memupuk ekspektasi tinggi. Ekspektasi yang menjadi bensin untuk terus bergerak ini nyatanya turut menyumbang rasa gelisah dan tekanan bagi sejumlah pelaku industri NFT. Setidaknya ini yang dilihat oleh Azizi Al Majid, seorang seniman asal Bandung yang telah aktif dalam industri NFT sejak awal tahun 2021.  

Azizi menyadari bahwa NFT memang menjadi peluang besar untuk mengembangkan karya dan menjadi wadah eksperimen juga berjejaring. Akan tetapi, ia melihat banyak yang mengira bahwa bermain NFT adalah jalan pintas untuk meraup keuntungan dengan cepat.

Padahal, menurutnya, membangun karir di dunia NFT sama seperti usaha membangun karir di bidang lainnya. Ada proses yang harus dilalui dan naik-turun perjalanan. Percobaan yang sukses maupun gagal adalah hal biasa.

Dunia NFT terus berputar, setiap saat adalah waktu yang tepat untuk cuitan “GM

Meleburnya batas waktu dan wilayah dalam dunia digital membuat industri NFT berjalan tanpa henti. Seakan tiap saat adalah waktu yang tepat untuk membuat cuitan “GM” di twitter, singkatan dari good morning dalam terminologi NFT di Twitter. Tiap detik adalah pagi di belahan dunia lainnya. Terus terjaga dari tengah malam hingga dini hari menjadi hal yang biasa bagi para pelaku NFT.

Satu cangkir kopi sehari bertambah menjadi dua. Ini yang terjadi pada Rhadiska. Meski dirinya pun masih ragu apakah hal ini disebabkan oleh beban pekerjaan lainnya atau secara spesifik karena tekanan dan rasa kelelahan digital sejak terjun dalam industri NFT. Tapi yang pasti, Rhadiska dan Azizi sama-sama setuju bahwa sejak memulai NFT, tidur cukup terasa sangat mewah dan langka.

Keharusan untuk terus mendapatkan kabar terkini mendorong para pelaku NFT untuk terus online, bolak-balik berpindah antara platform NFT, Twitter, and Discord. 

Tidak adanya hari libur menjadi salah satu sumber masalah ini. Azizi menceritakan bahwa mulai ada petisi dari komunitas NFT yang mendorong platform-platform NFT untuk “tutup” pada hari Minggu, demi menciptakan hari libur. 

Menurut Azizi, satu jam di dunia NFT terasa seperti satu minggu di dunia nyata. Kemungkinannya tak terbatas; tren dapat dibuat oleh siapa pun dalam alam NFT. Sesuatu yang masih trendi hari ini dapat menjadi bagian dari sejarah esok harinya. Industri NFT terus berjalan tanpa siapa pun dapat menghentikannya.

Mungkin ini hanyalah FOMO, pastinya ini adalah FOMO

Proses berkarya para seniman NFT belum dianggap selesai begitu karyanya telah diunggah. Mereka masih harus melakukan promosi melalui berbagai platform. Azizi menyampaikan bahwa hal ini kerap menghadirkan rasa FOMO, ketakutan bahwa waktu minting yang dipilih tidak tepat dan tidak mendapat kabar terkini seputar NFT. Ini kerap melahirkan rasa takut, ketidakpercayaan diri, dan memaksakan diri terlalu keras.

Kuatnya rasa FOMO ini tak hanya dirasakan seniman, tetapi juga kolektor dan pelaku industri NFT lainnya. Rasa lelah dan FOMO bahkan dirasakan pula oleh pengelola konten di NFTEvening. 

“Memang, sebagai pengelola konten NFTevening, saya tidak mengambil satu pun hari libur dalam 6 bulan terakhir. Bos saya pun mulai memaksa saya untuk keluar ‘pintu’ untuk mengambil istirahat sejenak. Rupanya, saya bukan satu-satunya,” ujar Jame Conlon dalam salah satu artikelnya.

Saatnya mulai menata, demi menjaga kesehatan mental   

Cerita yang disampaikan oleh Azizi dan Rhadiska menunjukkan adanya digital fatigue, rasa kelelahan mental dan fisik yang disebabkan oleh pemakaian media digital secara berulang dan terus menerus. Kelelahan ini dapat berujung pada masalah kesehatan fisik dan masalah kesehatan jiwa.

Interaksi virtual pastinya menguras tenaga yang besar bagi otak. Mengutip dari artikel halosehat, bila dilakukan secara berlebihan dan berkepanjangan, hal tersebut dapat mengganggu fungsi kerja otak menjadi ‘hyperfocus’, sebuah kondisi di mana kita kehilangan jejak atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Bahkan rasa lelah ini bisa membuat otak mengalami over-stimulasi.

“Semenjak aktif NFT, kayaknya kalo ngobrol emang jadi lebih banyak tentang NFT sih. Kadang malah bingung kalo ngobrol sama orang yang gak main NFT, jadi harus ngomong apa,” ujar Azizi. Kenyataan ini membuktikan bagaimana NFT memenuhi sebagian besar pikiran para pegiat NFT.

Mengutamakan istirahat pada akhir pekan nampaknya sudah mulai dilakukan oleh komunitas NFT. Satu sama lainnya kerap mengingatkan untuk mengambil waktu istirahat yang dibutuhkan. Meninjau dari grafik aktivitas yang dimuat dalam Henext, kesibukan dalam platform pada hari Sabtu dan Minggu cenderung lebih rendah dibanding hari-hari lainnya. 

Mengatur pola dan laju kerja bagi diri masing-masing juga menjadi hal yang penting. Kebiasaan untuk membanding-bandingkan sebaiknya mulai dihapuskan. Azizi dan Rhadiska setuju bahwa penting untuk mengingat ada proses yang berbeda bagi masing-masing individu. 

It’s not good to always question your own capability, please be content with your own self!” pesan Rhadiska.


Artikel terkait

See this gallery in the original post

Berita

See this gallery in the original post