Atreyu Moniaga Project ke-13 persembahkan ‘AARO’ secara perdana di CAN’S Gallery

Program inkubasi seni Atreyu Moniaga Project (AMP) ke-13 kini telah mencapai puncak acaranya. Mereka dengan bangga mempersembahkan “AARO”, yaitu pameran yang menampilkan karya dari Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry.

Diselenggarakan di CAN’S Gallery, Jakarta Pusat, ini menjadi pameran perdana dari keempat seniman tersebut. “AARO” sendiri dipilih sebagai nama kolektif yang diambil dari inisial keempat seniman. Selain itu, judul ini juga berasal dari istilah bermakna, “gunung yang menjulang kokoh”.

Menurut Ada Khansa, nama ini diharapkan dapat menjadi doa sekaligus harapan agar perjalanan artistik keempat seniman akan selalu berada dalam naungan yang kuat.

Atreyu Moriaga, selaku penggagas dan mentor utama AMP menekankan pentingnya seniman muda peserta inkubasi untuk memahami praktik berkesenian seniman sebagai proses yang menyeluruh.

Ia mengungkapkan bagaimana seringkali kita menganggap menjadi seniman adalah kehidupan yang glamor dan menyenangkan. Mampu berkarya tanpa beban, berpesta, dan tampil stylish setiap saat.

“Kita mungkin lupa atau luput melihat sisi lain yang membosankan, melelahkan, bahkan menyakitkan. Revisi, deadline, kritik, konflik dengan tim, dan segala jatuh-bangun dalam proses persiapan pameran. Saya salut dengan komitmen AARO: mereka bekerja dengan sangat keras sehingga hasilnya terlihat begitu mudah untuk digapai. Padahal seperti mendaki gunung, prosesnya tidak gampang,” ujarnya.

Program inkubasi dan pameran “AARO” kembali melibatkan kolaborator AMP yaitu Wilhemus Willy sebagai Perancang Grafis, Joshua Agustinus sebagai Perancang Pameran, dan Nin Djani sebagai Penulis.

Baca Juga: Bertema fantasi, PAW Expo 2026 akan hadirkan pengalaman “Immersive Paw-radise”

Menampilkan 40+ karya dengan beragam medium berbeda

Setidaknya ada kurang lebih 40 karya yang ditampilkan dalam berbagai medium di atas kanvas. Masing-masing karya merefleksikan personal tentang proses pendewasaan dan observasi lingkungan di sekitar sang seniman.

Menariknya, pengalaman masing-masing tersebut kemudian dicari benang merahnya sehingga menghasilkan ciri khas visual yang memiliki keunikannya tersendiri. Tak jarang hasil karyanya pun sangat berlainan antara satu sama lain.

Ada Khansa menampilkan seri berjudul “Sandbox”, dengan 10 karya yang melukiskan pergumulan batin yang mewarnai kesehariannya sejak kecil. 

Kemudian, Ansn Martin menyajikan karya yang memperlihatkan bagaimana persepsi diri dan nilai-nilai hidup yang berubah seiring berjalannya waktu dalam 10 karya seri berjudul “WOY!”.

Red Maerra melalui seri “ASLPLS” menyuguhkan 15 karya yang menyoroti keterasingan sebagai fenomena lazim di lingkungan urban yang terus terhubung secara digital

Sedangkan sebelas karya dalam seri “Tungkal” oleh Oddyendry menjadi proses napak tilas kampung halaman dan penerimaan masa lalu yang sudah terjadi.

Sebagai mitra pendukung selama lebih dari dua dekade, CAN’S Gallery menekankan komitmennya untuk selalu memberi ruang tumbuh bagi seniman, kurator, kolektor, dan institusi seni rupa Indonesia.

“Kami sangat bangga bisa terlibat dalam perjalanan awal para seniman AARO,” ujar Inge Santoso, direktur dari CAN’S Gallery.

Keseluruhan proses inkubasi dan karya pameran akan diarsipkan dalam buku “AARO” yang dicetak secara mandiri dan terbatas.

Untuk pamerannya sendiri, “AARO” dibuka untuk publik selama 18 April hingga 11 Mei 2026. Informasi lebih lanjut tentang tur, bincang seni, lokakarya dan program pengisi pameran lainnya akan disebarluaskan secara berkala melalui kanal Instagram @atreyumoniaga.project.