Haviez Ammaz lanjutkan pameran tunggal “Awakened Body: Raga Eling” ke Bali
Setelah sukses menggelar pameran tunggal bertajuk “Awakened Body: Gorejat Raga” di Clove Hotel Bandung pada 16 Januari hingga 18 Februari 2026 lalu, perupa kontemporer Haviez Ammar kini melanjutkan pameran bertajuk “Awakened Body: Raga Eling” ke Bali.
Pameran yang menghadirkan eksplorasi tubuh sebagai medan kesadaran yang melampaui keberadaannya sebagai entitas biologis ini akan diselenggarakan pada 17 April hingga 6 Mei 2026 di ZEN1 Gallery, Bali.
Sesuai dengan namanya, dalam pemahaman Bali, eling merujuk pada kesadaran yang terjaga. Suatu kondisi kewaspadaan batin dan ingatan spiritual yang menghubungkan diri dengan sesama dan semesta.
Subjudul Raga Eling pun menegaskan bahwa tubuh sebagai entitas yang sadar dan senantiasa diingatkan, tak hanya berfungsi secara fisik, namun juga menjalani proses yang sejalan dengan energi spiritual yang menghidupkan ekspresi.
Dikuratori Wildan F. Akbar dan dipresentasikan di ZEN1 Gallery, pameran ini menandai pergeseran konteks dari Bandung ke Bali, dari satu lanskap kultural ke lanskap lainnya. Di pameran kali ini, karya Ammar berkembang dalam ruang dialog yang lebih luas tanpa kehilangan “akar”-nya.
Baca Juga: Pameran tunggal Haviez Ammar “Gorejat Raga” digelar di Clove Hotel Bandung hingga Februari 2026
Menghadirkan karya yang dibangun dari bahasa visual surealis
Berangkat dari praktik gambar dua dimensi yang padat, rinci dan berlapis, Ammar membangun bahasa visual yang cenderung surealis.
Dalam “Awakened Body: Raga Eling”, ia mengolah imaji bulu merak, dada merak, serta figur singo barong dari Reog Ponorogo bukan sekadar sebagai representasi folklore, melainkan sebagai sistem simbol yang hidup.
Dalam konteks Bali, imaji-imaji ini menemukan resonansi dengan konsep sekala dan niskala, yaitu dunia yang tampak dan yang tak kasatmata. Tubuh-tubuh dalam karya Ammar berada di antara kedua ranah tersebut hadir secara fisik, namun menyimpan realitas batin yang tak sepenuhnya terungkap.
Kecenderungan surealis dalam karya-karya ini memperlihatkan tubuh sebagai entitas yang tidak stabil, berubah, dan terus bertransformasi. Bentuk manusia melebur dengan elemen hewani, ornamen, serta struktur simbolik lainnya, menciptakan figur-figur liminal yang berada di antara bentuk dan makna.
Salah satu hal menarik, adanya kehadiran aksen kaligrafi yang menghadirkan lapisan makna yang bersifat meditatif. Jejak visual yang menyerupai tulisan ini dapat dipahami sebagai gestur batin atau sejenis “mantra visual” yang tidak menuntut pemaknaan literal, melainkan dirasakan melalui ritme.
Pada akhirnya, “Awakened Body: Raga Eling” tidak hanya berbicara tentang tubuh sebagai bentuk, melainkan sebagai proses menjadi. Ia mengajak penonton untuk kembali pada kesadaran yang paling mendasar: bahwa tubuh adalah ruang pengalaman, ruang etika, dan ruang spiritual yang terus bergerak.
Dalam keheningan garis, kepadatan bentuk, dan pertemuan simbol-simbol budaya, Ammar menghadirkan sebuah ajakan yang sederhana namun intens untuk menjadi eling: mengingat, menyadari, dan mengenali kembali keberadaan kita sebagai bagian dari semesta yang saling terhubung.
Informasi lebih lanjut mengenai pameran tunggal ini ataupun Haviez Ammar dapat dilihat melalui situs www.hafizhammar.my.id atau Instagram @hipmoop.