TFR

View Original

Kedatangan Industri 4.0 yang tak terelakkan

Ditulis oleh Siti Fatimah Ayuningdyah | Read in English

Ia datang, tanpa bisa dihindari, dan mengabaikannya bukanlah pilihan. Kita berbicara tentang revolusi industri keempat, yang juga dikenal sebagai Industri 4.0.

Menilik sejarah, kita melihat bagaimana revolusi industri pertama memperkenalkan kita pada mesin uap, lalu datanglah revolusi kedua yang menandai awal zaman sains dan produksi massal, sedangkan revolusi ketiga menyaksikan kebangkitan teknologi digital; dan di sinilah kita sekarang, melangkah – baik dengan percaya diri atau enggan – ke dalam revolusi industri keempat.

Memahami revolusi industri keempat

Revolusi industri ini ditandai dengan perubahan pesat pada teknologi, industri, serta pola dan proses masyarakat karena meningkatnya interkonektivitas dan otomatisasi cerdas. Dengan demikian, Industri 4.0 mengoptimalkan komputerisasi Industri 3.0 Saat diperkenalkan di Industri 3.0, komputer adalah teknologi yang sama sekali baru yang dianggap mengganggu oleh sebagian orang. Namun, saat ini, komputer terhubung dan berkomunikasi satu sama lain untuk akhirnya membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia.

Oleh karena itu, Industri 4.0 dapat didefinisikan sebagai “sarana otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur termasuk Sistem Cyber-Physical, Internet of Things, big data dan data analitik, augmented reality, manufaktur aditif, simulasi, integrasi sistem horizontal dan vertikal, robot otonom, serta komputasi awan. Industri 4.0 berfungsi untuk membantu mengintegrasikan dan menggabungkan mesin cerdas, aktor manusia, objek fisik, jalur manufaktur, dan proses di seluruh tahapan organisasi untuk membangun jenis data teknis baru, rantai nilai yang sistematis dan memiliki kelincahan tinggi”.

Indonesia mengejar Industri 4.0

Tentu, Indonesia mengejar ini. Pada 2020, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan bahwa Indonesia perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi digital, terutama karena Indonesia diproyeksikan menjadi 5 besar ekonomi dunia pada 2045 dengan perkiraan PDB sebesar $9 miliar.

Presiden Joko Widodo sendiri telah memberikan lima mandat khusus terkait percepatan transformasi digital di Indonesia. Pertama, percepatan perluasan akses Internet dan pembangunan infrastruktur digital.

Selanjutnya adalah penyusunan peta jalan transformasi digital untuk sektor-sektor strategis, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.

Ketiga, mempercepat integrasi dan pengembangan pusat data nasional. Keempat, penetapan regulasi skema pendanaan transformasi digital. Terakhir, menyiapkan sumber daya manusia atau talenta digital untuk Industri 4.0.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar, masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Hal-hal tersebut antara lain peningkatan otomatisasi komunikasi mesin-ke-mesin, komunikasi manusia-ke-mesin, kecerdasan buatan, serta pengembangan teknologi berkelanjutan.

Kementerian Perindustrian telah memulai sejumlah inisiatif untuk mempersiapkan pelaku industri menghadapi revolusi industri baru, antara lain pemberian insentif bagi pelaku usaha padat karya berupa infrastruktur industri, kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengoptimalkan pita lebar, serta mengembangkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) untuk mempermudah proses integrasi data.

Tentu saja, sektor pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia dengan keterampilan dan kemampuan yang tepat untuk Industri 4.0. Apa pun yang terjadi, dalam setiap revolusi kita harus mulai dari rakyat.

Mendidik generasi 4.0

Kita sudah melakukannya dalam beberapa bentuk, terutama bagi yang memiliki anggota keluarga muda di rumah. Sekolah dari rumah hampir menjadi hal yang biasa saat ini mengingat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung. Pandemi merupakan faktor tak terduga yang mempercepat penerapan teknologi digital untuk pendidikan Indonesia secara masif.

Pendidikan di era Industri 4.0 ditandai dengan berbagai cara mengintegrasikan teknologi siber ke dalam proses pembelajaran. Hal tersebut datang dengan serangkaian tantangannya sendiri. Setidaknya ada empat kompetensi berbeda yang harus dimiliki pendidik: keterampilan berpikir kritis & pemecahan masalah, keterampilan komunikasi & kolaborasi, berpikir kreatif & inovatif, dan literasi digital.

Bagi perguruan tinggi, Industri 4.0 diharapkan dapat mewujudkan pendidikan cerdas melalui pemerataan kualitas pendidikan, perluasan akses pendidikan, dan relevansi pendidikan. Kegiatan pembelajaran harus dilakukan melalui blended learning (melalui kolaborasi), pembelajaran berbasis proyek (melalui publikasi), dan metode kelas terbalik (melalui interaksi publik dan digital).

TFR mewawancarai perwakilan Sampoerna University tentang topik pendidikan di Industri 4.0, dan ia menyatakan bahwa, “Teknologi adalah alat, sedangkan pola pikir dan cara berpikir adalah inti dari tujuan pendidikan. Kami ingin mengubah persepsi masyarakat, khususnya mahasiswa kami, mengenai dunia industri. Jika kita mengingat kembali era Industri 1.0, masyarakat diharapkan untuk belajar secara mandiri. Tidak ada lembaga pendidikan resmi yang memfasilitasi proses berpikir masyarakat. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan serap. Dan kemudian kita melangkah ke Industri 2.0, dan istilah 'majikan' dan 'karyawan' diperkenalkan. Saat itulah orang mulai belajar membaca dan menulis, meskipun keterampilan ini tidak wajib untuk mendapatkan pekerjaan. Kemudian ada Industri 3.0, yaitu era manufaktur, yang mengharuskan pekerja untuk dapat membaca, menulis, dan matematika sederhana karena orang mulai bekerja di pabrik. Dan sekarang kita memasuki era Industri 4.0; era informasi.”

“Dulu, mereka yang punya formula untuk membuat sebuah produk menguasai industri, tapi sekarang informasi begitu mudah diakses. Formula atau resep rahasia tidak lagi penting. Peran lembaga pendidikan adalah bagaimana mempersiapkan talenta yang mampu mendapatkan dan mengolah informasi untuk menciptakan karya berupa produk, teknologi, dan solusi baru yang belum pernah ada sebelumnya. STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) merupakan metode terbaik untuk menumbuhkan bakat siap kerja di era Industri 4.0. Itu sudah terbukti di seluruh dunia dan kami adopsi untuk Indonesia,” tambahnya.

Faktor kesiapan

Kementerian Perindustrian Indonesia merilis laporan pada 2019 tentang “Industry 4.0 Readiness Index” atau INDI 4.0, yang mengukur lima pilar: manajemen & organisasi, orang & budaya, produk & layanan, teknologi, dan operasi pabrik. Kelima pilar tersebut selanjutnya dikategorikan ke dalam 17 bidang berbeda yang dijadikan acuan untuk mengukur kesiapan industri di Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0.

Penilaian awal yang diterapkan pada 25 industri besar di Indonesia pada 2018 menunjukkan rata-rata industri berada pada level 2 yang menunjukkan “kesiapan sedang”; artinya, manajemen dan organisasi telah mengambil langkah untuk bertransformasi ke Industri 4.0. Tentu saja, survei dilakukan sebelum pandemi, yang mempercepat adopsi platform digital di Indonesia.

TFR melakukan survei tentang Industri 4.0, di mana TFR menanyakan pendapat dan pengalaman responden tentang Industri 4.0. Hasilnya, 92,3% responden menyatakan sudah akrab dengan istilah “Industri 4.0”, dengan “kemudahan memperoleh informasi” dipilih oleh 100% responden sebagai dampak positif terbesar yang mereka rasakan.

Sisi negatifnya bagi mereka? Bahaya kejahatan dunia maya, termasuk penipuan dan peretasan digital. Menariknya, tidak banyak yang merasa bahwa Indonesia siap untuk revolusi baru ini; 50% memilih “tidak siap”, sementara 30% memilih “netral”.

Seorang responden menulis: “Semua upaya revolusi industri yang telah dilakukan ini tidak berorientasi pada manfaat bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya digitalisasi tidak berjalan beriringan dengan integrasi yang baik, misalnya KTP elektronik yang tidak memiliki manfaat apa pun selain kartu identitas dengan chip di dalamnya. Jika saja revolusi industri didukung oleh wawasan tentang apa yang dibutuhkan masyarakat untuk memiliki kualitas hidup sehari-hari yang baik, hasilnya akan bermanfaat.”

Pada akhirnya, mempersiapkan Industri 4.0 adalah upaya bersama antara pemerintah, sektor swasta, sektor publik, sektor sosial, sektor pendidikan, dan tentu saja masyarakat. Barulah manfaatnya akan terasa.



Understanding the fourth industrial revolution

This industrial revolution is marked by rapid change to technology, industries and societal patterns and processes due to increasing interconnectivity and smart automation. Thus, Industry 4.0 optimises the computerisation of Industry 3.0. When computers were introduced in Industry 3.0, it was an entirely new technology that felt disruptive to some. Today, though, computers are connected and communicate with one another to ultimately make decisions without human involvement.

Therefore, Industry 4.0 can be defined as “the means of automation and data exchange in manufacturing technologies including Cyber-Physical Systems, Internet of Things, big data and analytics, augmented reality, additive manufacturing, simulation, horizontal and vertical system integration, autonomous robots, as well as cloud computing. It serves a role to help integrate and combine the intelligent machines, human actors, physical objects, manufacturing lines and processes across organisational stages to build new types of technical data, systematic and high agility value chains”.

Indonesia catches up on Industry 4.0

Indonesia, of course, is catching up on this. In 2020, Minister of Communication and Informatics Johnny G. Plate stated that Indonesia needed to optimise the use of digital technology, especially as Indonesia was projected to become a top 5 world economy by 2045 with an estimated GDP of $9 billion. President Joko Widodo himself has given five specific mandates, the minister revealed, with regards to the acceleration of digital transformation in Indonesia. First, the acceleration of Internet access expansion and digital infrastructure development. Next is the preparation of the digital transformation roadmaps for strategic sectors, which include education, health, economy, defence and security. The third is accelerating the integration and development of a national data centre. Fourth, establishing regulations for digital transformation funding schemes. Lastly, preparing the human capital or digital talents for Industry 4.0.  

According to Head of the Indonesian Agency of Industrial Research and Development (BPPI) Haris Munandar there are still some things to prepare. Those things include increasing the automation of machine-to-machine communication, human-to-machine communication, artificial intelligence, as well as sustainable technology developments.

The Ministry of Industry has started several initiatives to prepare industry players for the new industrial revolution, including giving out incentives for labour-intensive businesses in the form of industry infrastructure, collaborating with the Ministry of Communication and Informatics to optimise bandwidth, as well as developing the National Industry Information System (SIINAS) to make the process of data integration easier.

Of course, the education sector plays an important role in preparing human capital with the right skills and capabilities for Industry 4.0. No matter what, in every revolution we must start with the people.

Educating the 4.0 generation

We are already doing it in some forms, especially for those with young family members at home. Schooling from home is almost a norm now in the light of the ongoing COVID-19 pandemic. The pandemic is an unexpected factor that accelerates the application of digital technology for Indonesian education in a massive way. 

Education in the era of Industry 4.0 is marked by the various ways of integrating cyber-technology into the learning process. It comes with its own set of challenges, though. There are at least four different competencies that educators must possess: critical thinking & problem solving skills, communication & collaboration skills, creative & innovative thinking and digital literacy. 

For institutes of higher learning such as universities, Industry 4.0 is expected to bring about smart education through equality in education qualities, the expansion of education access and relevance. Learning activities should be done through blended learning (through collaboration), project-based learning (through publication) and flipped classroom methods (through public and digital interaction).

TFR interviewed a representative of Sampoerna University on the topic of education in Industry 4.0, and they said that, “Technology is a tool, whereas mindset and ways of thinking are the core of the objective of education. We want to change the perception of the public, especially our students, about the industrial world. If we go back to the era of Industry 1.0, people were expected to learn independently. There were no official educational agencies that facilitated the public’s thinking process. They learn from what they see and absorb. And then we stepped into Industry 2.0, and the terms ‘employer’ and ‘employees’ were introduced. This was when people started learning to read and write, though these skills were not compulsory to secure jobs. Then we had Industry 3.0 that was the manufacturing era, which required workers to be able to read, write and do simple maths because people started to work in factories. And now we are entering the Industry 4.0 era; the era of information.”

“Before, those with a formula to create a product would rule an industry, but nowadays information is so easily accessible. Secret formula or recipe is no longer as important. The role of educational institutions is in how to prepare talents who are able to attain and cultivate information to create outputs in the form of new products, technology and solutions that never existed before. The STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) is the best method to cultivate ready-to-work talents in the Industry 4.0 era. It is proven all over the world and we are adopting it for Indonesia,” they added.

The readiness factor

The Indonesian Ministry of Industry released a report in 2019 on the “Industry 4.0 Readiness Index” or INDI 4.0, which measured five pillars: management & organisation, people & culture, product & services, technology and factory operation. These five pillars are further categorised into 17 different fields that are used as references to measure industry readiness in Indonesia as we face Industry 4.0.

The initial assessments applied on 25 major industries in Indonesia in 2018 showed that the industries on average are at level 2, which indicated “moderate readiness”; it means that the management and organisations have taken the steps to transform into Industry 4.0. Of course, the survey was conducted before the pandemic, which accelerated the adoption of digital platforms in Indonesia.

TFR conducted our own survey on Industry 4.0, in which we asked respondents to share their thoughts and experience about Industry 4.0. 92.3% of the respondents are already familiar with the term “Industry 4.0”, with “ease of obtaining information” voted by 100% of respondents as the biggest positive impact they have experienced.

The downside for them? The danger of cyber-crimes, including digital fraud and hacking. Interestingly, not many feel that Indonesia is ready for this new revolution; 50% voted “not ready” while 30% voted “neutral”.

One respondent wrote: “All the efforts for this industry revolution that have been carried out are not benefit-oriented for the people in their daily lives. Digitisation efforts do not go hand in hand with good integration, for example the electronic ID card that has no benefits whatsoever beyond an identification card with a chip in it. If only the industry revolution is supported by insights on what the people need in order to have good daily living quality, the result will be beneficial.”

At the end of the day, preparing for Industry 4.0 is a joint effort among the government, the private sector, the public sector, the social sector, the education sector and of course the people. Only then will the benefits be felt. 


Artikel terkait

See this gallery in the original post

Berita

See this gallery in the original post