Ketika matahari bukan lagi teman: Sisi lain perlindungan UV yang sering terlewatkan
Setiap pagi sebelum bekerja, Nana (bukan nama sebenarnya), 33 tahun, mempersiapkan segala macam apa yang harus dibawa di tas kantor, baju ganti, kipas portable yang selalu wajib ada. Dibandingkan dengan tas suaminya, Nana seperti bukan ke kantor melainkan bisnis trip selama satu hari. Baju yang ia gunakan pun harus spesifik, yaitu baju yang mudah kering dan berbahan tipis.
“Sejak 2020-an gue tuh semacam punya respons baru karena cuaca yang panas dan lembab, jadi di daerah-daerah lipatan badan itu seperti muncul bentol ruam besar seperti kaligata. Jadi kalau gue ada kegiatan outdoor, gue harus membawa obat alergi,” ujar Nana dalam wawancara bersama TFR News.
Cuaca tropis yang kadang membuat sulit beraktivitas
Sebagai warga Indonesia, kita paham betul bagaimana cuaca di Indonesia sulit ditebak, tapi satu yang pasti, teman-teman di daerah urban sering menghadapi cuaca yang lembab dan panas. Terkadang untuk aktivitas sehari-hari pun berat dijalankan, apalagi dengan ancaman paparan sinar matahari plus sinar ultraviolet (UV). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat paparan UV di daerah-daerah dekat garis khatulistiwa cenderung tinggi. Bahkan meski cuaca mendung pun, WHO tetap merekomendasikan untuk memakai perlindungan terhadap sinar UV.
Contohnya saja di daerah Jakarta, indeks UV rata-rata tahunan berkisar di angka 3,6 hingga 4,3, tetapi paparan radiasi sinar matahari setiap hari mencapai puncaknya di kategori tinggi 6-7 poin atau bahkan 8-10 poin. Dari data ini, tak ada jeda istirahat bagi warga dalam melindungi diri dari paparan sinar matahari sepanjang tahun.
Jika berbicara soal paparan sinar matahari terutama sinar UV, diskusi seputar perlindungan sinar UV di Indonesia masih berfokus pada pemakaian sunscreen, perlindungan SPF, dan melindungi kulit agar tetap cerah, yang memang valid, namun melupakan beberapa hal tertentu.
Contohnya, ada segelintir individu yang jika terkena paparan sinar matahari sinar UV memiliki reaksi yang berbeda, contohnya saja Nana dengan kondisinya yang mudah sekali terkena ruam besar yang memiliki sebutan medis, urticaria solar.
Sunscreen kadang tidak cukup
Saran paling mendasar yang sering kali diberikan untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV dan sinar matahari adalah dengan menggunakan sunscreen, akan tetapi sunscreen saja tidak cukup. Sunscreen mudah luntur dengan keringat, yang kemudian membutuhkan re-application, yang kadang tidak praktis di tengah kesibukan sehari-hari.
“Makanya aku tuh sekarang kalau mencari baju sampai dalaman, bahkan dalaman jilbab, harus yang gampang kering. Nah, yang paling terasa banget tuh bedanya pas aku pakai Airism Uniqlo untuk dalaman aku,” tutur Nana.
Penjelasan Nana soal pemilihan bahan baju dan dalaman yang mudah kering agar tidak mudah berkeringat membawa kita pada fakta bahwa saat ini fesyen sebagai statement atau style saja tidak lagi cukup, namun fesyen dengan bahan yang dapat melindungi orang-orang dengan kondisi kulit khusus juga perlu menjadi perhatian.
Agar kulit dapat terlindung dengan lebih praktis serta aksesibel, pakaian dapat menjadi ultra protection factor yang reliable. Yaitu melalui bahan-bahan pakaian yang tak hanya melindungi kulit dari sinar UV, tapi juga tidak mudah lembab, tidak mengiritasi kulit dan nyaman digunakan sehari-hari. Uniqlo hadir untuk memenuhi kebutuhan ini, tanpa mengesampingkan sisi estetika dan fashion. Brand asal Jepang ini konsisten menghadirkan koleksi UV Protection Wear yang fungsional dan juga stylish.
“Menurutku perlindungan UV itu yang paling penting adalah heat management dan kelembaban, pakaian ini quick dry lho, jadi kalau berkeringat badan tidak terasa pengap. Would be great kalau ada yang menyediakan level UPF+50,” ujar Nana.
Ini yang membuat Nana jarang membeli pakaian secara online, karena penting baginya untuk secara langsung merasakan bahan pakaiannya.
“Ada beberapa brand yang gue pakai, salah satunya UNIQLO karena ini versi affordable-nya, dan UNIQLO itu ada AIRism dalaman kerudung yang gue juga pakai. Dalaman yang memang langsung kena kulit itu aku tetap pakai UNIQLO karena proven, karena pakai produk mereka nggak membuat kaligata gue kumat,” ujar Nana.
Tak hanya produk AIRism saja, UNIQLO yang memang unggul dengan produk-produk lifewear-nya juga memiliki banyak fungsi dalam setiap produk wearable UV Protection-nya, di antaranya: bahan dengan perlindungan hingga UPF50+ pada sebagian produk, teknologi DRY-EX yang bantu kelola kelembaban, dan “cool to the touch” yang memberikan sensasi sejuk saat bersentuhan dengan kulit. Contohnya cardigan kerah bulat yang memberikan proteksi sinar UV dengan rating UPF25, dibuat dari bahan rayon halus yang ringan dan effortless untuk di-layering.
Untuk orang-orang yang memiliki masalah kulit yang sama, menjalankan aktivitas dengan nyaman apalagi aktivitas di luar ruangan dengan nyaman itu sebuah impian. Perlindungan UV tak lagi membicarakan soal estetika kecantikan saja, namun bagi mereka ini benar-benar soal menjalani aktivitas dengan tentram dan nyaman. Dan terkadang jawaban tersebut sesederhana pakaian dan dalaman apa yang kamu pilih dan gunakan pagi ini. Jika ingin tahu lebih lanjut, kunjungi website UNIQLO Indonesia, dan temukan perlindungan UV yang sesuai dengan gayamu.