Pameran “Segue #3: Amang Rahman - Emanasi” sorot perjalanan artistik sang seniman

Orasis Art Space menghadirkan pameran yang menyoroti perjalanan artistik Amang Rahman (1931-2001), figur penting dalam sejarah seni rupa modern Surabaya.

Pameran bertajuk “Segue #3: Amang Rahman - Emanasi” yang dikuratori oleh Heru Hikayat ini berupa pameran berbasis arsip yang menampilkan karya, arsip, dan jejak praktik kesenian Amang Rahman mulai dari abstraksi bentuk hingga kaligrafi.

Pameran ini menempatkan gagasan emanasi sebagai kerangka pembacaan praktik visual Amang Rahman, yang karyanya kerap menampilkan efek pendaran seolah setiap sosok memancarkan cahaya.

Ini merupakan edisi ketiga dari pameran Segue yang merupakan bagian dari komitmen Orasis Art Space dalam menjaga, merawat dan menghidupkan kembali kontribusi panjang para seniman di Surabaya dan wilayah sekitarnya.

Sebelumnya, Segue pertama hadir pada 2024 dengan menggelar pameran “Segue #1: O.H. Supono - Supercut of Life”, menampilkan karya dan arsip Ogeng Heru Supono (1937-1991). Ia merupakan sosok seniman yang dikenal lewat seri lukisan Borobudur.

Segue #1 pun menyoroti fase penting dalam perjalanan seninya yang menjadi puncak pencapaiannya sekaligus bagian dari karya-karya terakhirnya.

Kemudian menyusul kesuksesan Segue #1, seri ini menghadirkan “Segue #2: Lim Keng - Breath of Lines” yang menelusuri lebih dari lima dekade praktik sketsa Lim Keng (1934-2009).

Baca Juga: Pulih Nan Selaras gandeng Habib Ja’far dalam live podcast “Kembali Secara Utuh

Mulai dari pameran arsip hingga penerbitan buku trilogi

Dalam praktik keseniannya, Amang Rahman dikenal sebagai seniman yang gemar belajar dari apa pun yang ia temui sepanjang perjalanan hidupnya. Ia mengamati lingkungan sekitar dengan seksama dan merenungkannya secara mendalam.

Proses pengamatan dan perenungan tersebut menjadi bagian penting dari laku keseniannya, yang ia sebut sebagai luru-luru, memungut hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian banyak orang.

Melalui bahasa visual yang kaya dan berlapis, Amang Rahman tidak hanya merekam pengalaman personal, tetapi mengolahnya menjadi ruang refleksi yang dekat dengan keseharian. Unsur spiritualitas, kemanusiaan, dan pengalaman hidup saling bertaut dalam karyanya.

Segue #3 mengajak publik untuk menelusuri jejak visual Amang Rahman sebagai cara seorang seniman memaknai dan menjalani hidup.

Untuk edisi ketiganya, Proses riset Segua #3 melibatkan Yuki Hatori dan Nabila Warda sebagai tim peneliti, dengan dukungan para responden lainnya.

Program Segue tidak hanya dipresentasikan melalui pameran, keberlanjutan program ini direncanakan melalui penerbitan buku trilogi yang akan mengarsipkan karya dan pemikiran O.H. Supono, Lim Keng, dan Amang Rahman, sebagai bagian dari upaya merawat ingatan dan sejarah seni rupa Surabaya.