Lebih dari sekadar festival, Padepopan jadi tempat kumpul pelaku musik di Depok

Usai sukses dengan Pesta Bebas Berselancar (PBB) dan Hadjatan Keliling Kota (Djatlingko), Junior Digital Indonesia dan Memorise Fun Club sukses menggelar festival musik Padepopan pada 7 Desember lalu.

Mengusung tema “Seragam Beragam”, acara tersebut digelar di Depok, menampilkan keberagaman irisan budaya dari banyak ras, jenis pekerjaan, agama, hingga sejarah kotanya.

Menariknya, Padepopan digelar di lokasi yang tidak biasa dan jarang digunakan oleh festival musik, yaitu Jatijajar Transit Hub atau Terminal Jatijajar Depok yang hingga saat ini masih aktif sebagai tempat berkumpulnya kendaraan umum seperti bus antarkota.

Sesuai namanya yang terinspirasi dari kata “padepokan”, festival musik in lebih dari sekadar tempat untuk menyaksikan penampilan musisi.

Padepopan dirancang sebagai tempat berkumpulnya para pelaku musik, local heroes, dan komunitas lokal Depok yang dirayakan bersama warga muda, baik di Depok maupun luar Depok.

Baca juga: ART SG dan S.E.A. Focus siap digelar pada Januari 2026, kenalkan kuratorial dan program baru

Pusat kumpul warga, komunitas, hingga pegiat musik

Berbeda dengan festival lainnya, Padepopan berakar pada kekuatan komunitas, menggabungkan ekspresi budaya dengan partisipasi warga untuk menghadirkan perayaan yang terbuka dan kolaboratif.

Festival musik ini menghadirkan tujuh musisi dari berbagai genre dan daerah yang sukses menghibur penonton di panggung utama, Bricks Stage. 

Panggung ini didesain intimate, dengan penampil yang dikurasi oleh Pemuda Dalam Gang. Sederet nama yang hadir ialah The Cottons, Banda Neira, Olsam, Nosstress, Hindia, .Feast, dan White Chorus.

Sementara itu, di panggung kedua bernama Alter Stage, penonton dapat menyaksikan berbagai aktivitas unik lainnya hasil kurasi kolektif Pemuda Dalam Gang.

Mulai dari Gerakan Aceh Mencukur yang menampilkan live cukur rambut persembahan Corale Riff, Arc Yellow, dan Jarah; hingga sesi talkshow Saling Sapa bersama pegiat seni yang dibawakan oleh Kolese Kultur.

Keseruan lainnya ialah penampilan Aduy Kicuy dan Benang Kenur yang berhasil membuat penonton tertawa lepas dan melupakan penatnya sejenak dengan tawa yang terus pecah sepanjang set, serta The Gedor alias Gerobak Dorong yang merupakan dangdut keliling asal Depok.

Padepopan juga menghadirkan zona komunitas Tengkulak Kalcer oleh Pemuda Dalam Gang, yang menjadi ruang temu dan eksplorasi.

Zona ini dimeriahkan oleh Dalmention yang menghadirkan showcase dan rework pakaian, Gambar Bagus untuk mengabadikan momen melalui gambar yang dibuat secara langsung, serta Dalam Gang Recs dan Kios Warga yang menawarkan kaset hingga merchandise local heroes Depok.

Adapun lokakarya aksesori Bee n Beads, lokakarya merajut dan menyulam LCKYDY, dan Tangled Stuff sebagai ajang silaturahmi.

Para pengunjung festival ini juga dimanjakan dengan 22 tenant UMKM lokal yang memenuhi Area Kuliner.

Sementara itu, kolaborasi dengan Bank Sampah Induk Rumah Harum menyediakan drop box yang menampung sampah-sampah selama acara untuk didaur ulang, menjadikan festival ini tak hanya ramah keluarga dengan sederet aktivitasnya, tetapi juga ramah lingkungan.

Dengan terselenggaranya Padepopan, harapannya ekosistem budaya Depok dapat makin berkembang dan acara ini dapat membuka lebih banyak jalan bagi ruang kreatif di tahun-tahun berikutnya.