Hiburan untuk semua, Bagian 2: Menikmati film hanya lewat suara, bisa?

Ditulis oleh Hani Fauzia Ramadhani | Read in English

Banyak orang mengernyitkan dahi ketika seorang disabilitas netra menyatakan senang menonton film. Layaknya Tuli yang kerap diasumsikan tidak bisa menikmati musik, penyandang disabilitas netra sering dianggap bukan penikmat film. Anggapan ini muncul karena kebanyakan karya film memadukan elemen audio-visual yang tak terpisahkan. Lalu bagaimana orang-orang dengan disabilitas netra bisa menikmati film? Apa saja yang bisa dilakukan oleh produser film agar karyanya lebih mudah diakses? Setelah mengulik aksesibilitas konser dan festival musik bagi Tuli, kali ini TFR menelusuri aksesibilitas media hiburan berbasis audio-visual bagi penyandang disabilitas netra. 

Mendengarkan film saja tidak cukup

Kadek Agus, seorang disabilitas netra asal Bali, berbagi pengalamannya mengakses dan menikmati film. Sangat disayangkan, pengalamannya sering kali tidak utuh. “Disabilitas penglihatan atau netra sebenarnya ada berbagai tingkatan, ada mereka yang low-vision, disabilitasnya ringan atau sedang. Sementara itu, ada disabilitas total seperti saya, benar-benar tidak bisa melihat apa-apa. Nah, bagi saya dan teman-teman yang tingkat disabilitasnya serupa, menikmati film benar-benar hanya dari suaranya saja. Tapi karena saya bukan disabilitas dari lahir – jadi saya pernah bisa melihat – bagi saya membayangkan adegan berdasarkan apa yang didengar cukup mudah. Tapi saya kurang tahu bagaimana dengan disabilitas netra total yang sejak lahir,” papar Kadek.

Kadek juga menuturkan, ia kadang hilang fokus atau tidak bisa mengikuti alur cerita dengan sempurna karena tak jarang ada adegan-adegan dalam film yang tidak memiliki dialog. “Ditambah lagi ada bagian-bagian seperti berkelahi, misalnya, yang hanya terdengar suara hantamannya saja. Saya tidak terbayang bagian apa yang kena pukulan atau tendangan. Lalu misalnya dua orang tiba-tiba bicara berbisik-bisik, saya tidak tahu suasana apa yang membuat mereka harus berbisik,” tuturnya.

Selain apa yang disampaikan Kadek, hambatan lain juga muncul saat orang-orang dengan disabilitas netra ingin menikmati karya film dari luar negeri. Memang banyak film asing yang telah disulih suara ke Bahasa Indonesia. Namun, tanpa penjelasan soal konteks budaya, suasana luar negeri yang berbeda, dan berbagai kode visual lainnya yang kerap muncul, tidak mudah untuk memahami film-film tersebut dengan maksimal.

Ragam teknologi sebagai solusi

Saat ini, solusi terbaik menghadirkan aksesibilitas bagi disabilitas netra penikmat film ada dua, yakni audio description dan 3D sound. Untuk memahami kedua solusi ini, TFR berdiskusi dengan Rahma Utami, Knowledge and Accessibility Director dari Suarise, sebuah organisasi yang mengampanyekan kesetaraan akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas netra. 

Rahma menjelaskan, fitur audio description berbeda dengan sulih teks, keterangan gambar, atau sulih suara. Fitur ini menghadirkan lapisan suara “narator” di atas dialog antar-pemeran dalam sebuah film. Narator ini mendeskripsikan aktivitas yang ada di layar, termasuk tindakan fisik, ekspresi wajah, kostum dan penampilan fisik lainnya, latar tempat dan waktu, serta perubahan adegan. “Jadi seperti baca novel, setiap scene dideskripsikan dengan jelas,” tuturnya.

Sementara itu, dengan teknologi 3D sound, setiap suara yang ada dalam sebuah film dirancang untuk menjelaskan situasi dan kondisi yang ada. “Teknologi ini menghadirkan ambience yang membantu audiens netra untuk memahami latar di mana sebuah adegan terjadi; misalnya pantai, tengah kota, dan sebagainya. Kemudian jika ada adegan seseorang berlari dari kiri ke kanan, maka suara derap kaki, angin, napas tersengal pun terdengar dari speaker kiri ke kanan – kecepatannya sesuai dengan adegan tersebut. Suara-suara ini bisa dikonstruksi supaya memberi konteks dimensi, menjelaskan apakah ada pergerakan yang terjadi di depan, belakang, atau samping frame satu adegan,” jelas Rahma.

Ketersediaan akses masih minim

Namun apakah solusi yang dijabarkan di atas sudah tersedia secara luas dan merata, terutama di Indonesia? Well, ternyata masih minim. Berbagai platform streaming film seperti Netflix dan Disney Plus sudah mulai menyediakan fitur audio description dalam Bahasa Indonesia untuk film-film pilihan. Namun, untuk program-program TV dan film bioskop, masih belum ada.

Permasalahan lainnya, selain konten audio-visual yang tidak bisa diakses oleh penyandang disabilitas netra, sering kali medium di mana konten tersebut berada juga sulit diakses. “Sebuah film atau video yang ada di website tertentu, kadang website-nya tidak bisa diakses dengan pembaca layar. Padahal pembaca layar inilah yang membantu disabilitas netra menggunakan gadget. Sekarang YouTube sudah bisa diakses, sudah memenuhi standar WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) tapi ya banyak video di YouTube yang belum ada audio description-nya. Masih belum ada yang sempurna, lah,” kata Rahma lagi.

Kadek menambahkan, “Akses yang terbatas juga diakibatkan oleh infrastruktur yang kurang memadai. Misalnya, fasilitas umum yang tidak ramah disabilitas netra; jangankan di bioskop atau venue festival film, jalan dan transportasi umum untuk menuju ke sana pun [ada] yang tidak aksesibel.”

Meski ada disabilitas netra yang masih senang pergi ke bioskop dan menikmati film dengan segala keterbatasan aksesnya, Kadek sendiri punya pilihan lain. “Saya lebih suka sandiwara radio, bahkan saya sampai mengoleksi file digitalnya. Saat ini banyak sandiwara radio yang tersedia di YouTube, bahkan yang jadul dari tahun ‘80-an juga ada. Saya senang banget mendengarkannya karena sangat deskriptif, juga pakai efek suara yang detail. Selain itu, podcast juga jadi alternatif hiburan untuk saya,” ujar laki-laki yang bekerja sebagai Project Officer di sebuah jaringan kerja disabilitas ini.

Peran pemerintah dan inisiatif masyarakat

Untuk mendorong ketersediaan akses bagi disabilitas netra, tentunya peran pemerintah sangat krusial. Pasalnya, baik produsen karya audio-visual maupun distributornya pasti lebih sigap jika memang sudah ada aturan baku dan juga standar operasional prosedur yang jelas. Amerika Serikat, misalnya, memiliki American Disability Act (ADA), sebuah regulasi yang mendorong penghapusan diskriminasi dan keterbatasan bagi penyandang disabilitas dalam segala bidang, termasuk hiburan.

“Saat ini sebenarnya pemerintah sedang merancang peraturan menteri mengenai aksesibilitas digital dan pedomannya sendiri sudah rampung pada 2022 lalu. Ini ranahnya di Kominfo, dan kebetulan Suarise terlibat dalam penyusunannya, terutama untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman soal penyediaan akses bagi disabilitas netra. Harapannya nanti setelah dirilis, bisa jadi acuan bukan hanya untuk website, aplikasi, atau media-media informasi audio-visual dari pemerintah saja, tapi untuk semua produser dan distributor swasta, bahkan perorangan juga,” tutur Rahma.

Berbagai inisiatif kelompok masyarakat pun bermunculan untuk menyiasati keterbatasan akses ini. Ada program-program seperti Bioskop Bisik dan Bioskop Harewos, yang pada dasarnya berkonsep serupa, yaitu menyediakan sukarelawan bagi disabilitas netra untuk mendampingi saat menonton sebuah film. Para sukarelawan ini berperan layaknya audio description, membantu menjelaskan apa yang ada di layar untuk memberi konteks lebih lengkap.

Dokumentasi: Bioskop Harewos

Sayangnya, kegiatan seperti itu bersifat musiman dan masih banyak keterbatasannya. Kadek yang pernah beberapa kali berpartisipasi pun mengutarakan pendapatnya. “Sebenarnya tujuannya bagus banget, namun karena konsepnya sebuah event, jadi filmnya sudah dipilihkan oleh panitia, yang mana sering kali tidak sesuai selera. Kadang juga jumlah volunteer kurang sehingga satu orang mendampingi dan membisiki beberapa audiens netra, jadi tidak efektif,” ceritanya.

Hiburan belum jadi prioritas

Saat ini di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 4 juta penyandang disabilitas netra. Meski hiburan terbilang penting bagi keseimbangan hidup semua individu, isu keterbatasan akses bagi disabilitas netra masih belum mendapatkan perhatian yang cukup. Hal ini diakibatkan oleh minimnya kesadaran berbagai pihak.

“Banyak pihak yang belum sadar pentingnya dan belum terbayang dampaknya akan seperti apa, jika ketersediaan akses bagi disabilitas diwujudkan. Hiburan sebagai industri terkadang fokus di strategi meraup keuntungan, pelaku kreatif belum paham akan kebutuhan aksesibilitas yang seharusnya terpenuhi, dan pergerakan advokasi dari organisasi dan komunitas disabilitas pun masih fokus di hal-hal mendasar yang memang sampai saat ini saja belum tuntas,” Rahma melanjutkan.

Memang benar, seperti diungkapkan Kadek, akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja saja masih minim bagi disabilitas netra. Semoga saja dengan terbangunnya kesadaran kolektif untuk membuka akses bagi disabilitas di segala lini kehidupan, mimpi mewujudkan masyarakat yang inklusif dapat tercapai. Yang jelas, semua pihak harus terlibat dan mendukung upaya-upaya ini.





Artikel terkait


Berita Terkini